Pada kesempatan kali ini, kita akan belajar bersama-sama
tentang penyakit yang banyak dialami anak-anak dan dewasa saat ini,
yaitu penyakit campak – yang dikenal juga dengan istilah morbili,
measles, atau rubeola. Penyebab campak Genus morbilivirus yang terdapat dalam sekret di hidung, tenggorokan, darah, dan urin. Cara penularan Droplet (percikan air ludah saat batuk dan bersin) dan kontak langsung dengan penderita. Gejala Gejala dapat muncul setelah terpapar dengan pasien campak 9-14 hari sebelumnya. Penyakit ini dapat dibagi atas 3 stadium: 1. Stadium prodormal/kataral
Berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, lemas, batuk, mata berair, merah, dan terasa nyeri saat melihat cahaya matahari.
Secara klinis gambaran penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza.
Untuk membedakannya, pada stadium ini ibu-ibu mengamati di mulut
anak ada bercak koplik atau tidak, yaitu bercak putih kelabu kecil
dikelilingi oleh area merah pada daerah pipi yang berhadapan dengan gigi
geraham bawah.
2. Stadium erupsi
Gejala batuk dan pilek bertambah berat, muncul titik-titik merah di langit-langit mulut.
Muncul ruam yang disertai dengan bertambah tingginya panas. Ruam
mula-mula muncul di belakang telinga dan bagian leher belakang, kemudian
dalam 24 jam pertama menyebar ke muka, dada, dan lengan atas. Kemudian
24 jam berikutnya ruam menyebar ke perut, paha, dan kaki.
Keparahan penyakit dapat dilihat dari ruam:
Sangat ringan: ruam hanya sedikit.
Ringan: ruam cenderung tidak menyatu.
Berat: ruam menyatu, kulit tertutup secara sempurna, termasuk telapak tangan dan kaki, dan muka membengkak
3. Stadium konvalesensi
Suhu menurun sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (seperti: radang otak, infeksi telinga tengah, bronkopneumonia).
Menghilangnya ruam sesuai dengan munculnya, yakni di hari ke 2 atau 3
saat ruam mencapai kaki, ruam di muka dan leher mulai menghilang,
begitu seterusnya sampai di tempat terakhir munculnya ruam. Biasanya
muncul dan menghilangnya ruam berlangsung selama 6 hari.
Kulit meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
Terapi: Pengobatan hanya bersifat mengobati gejala, seperti penurun
panas, obat batuk, dan vitamin untuk daya tahan tubuh, terutama vitamin
A.
Antibiotik diberikan jika dicurigai ada infeksi sekunder bakteri.
Demikian penjelasan singkat tentang campak. Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam. Sumber pustaka:
Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Snak. Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran UI. 1985.
W. Hay, William; Hayward Anthony; Levin J, Myron; Sondheimer M, Judith. Current Pediatric Diagnosis and Treatment (15th ed.).
Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya” Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan
(epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah
untukku agar Allah Menyembuhkannya.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’ Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa rindunya hati ini kepada surga-Nya yang begitu indah. Yang
luasnya seluas langit dan bumi. Betapa besarnya harapan ini untuk
menjadi salah satu penghuni surga-Nya. Dan subhanallah! Ada seorang
wanita yang berhasil meraih kedudukan mulia tersebut. Bahkan ia
dipersaksikan sebagai salah seorang penghuni surga di kala nafasnya
masih dihembuskan. Sedangkan jantungnya masih berdetak. Kakinya pun
masih menapak di permukaan bumi. Sebagaimana perkataan Ibnu Abbas kepada muridnya, Atha bin Abi Rabah,
“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab,
“Ya”
Ibnu Abbas berkata, “Wanita hitam itulah….dst” Wahai saudariku, tidakkah engkau iri dengan kedudukan mulia yang
berhasil diraih wanita itu? Dan tidakkah engkau ingin tahu, apakah
gerangan amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni
surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok?
Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan
masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan
Allah dan Rasul-nya. Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak
ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan
dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperlihatkan kepada
suaminya dan orang-orang yang halal baginya. Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan
seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya,
keimanannya, keindahan akhlaqnya, amalan-amalan shalihnya, seorang
wanita yang buruk rupa di mata manusia pun akan menjelma menjadi
secantik bidadari surga. Bagaimanakah dengan wanita zaman sekarang yang sibuk memakai kosmetik
ini-itu demi mendapatkan kulit yang putih tetapi enggan memutihkan
hatinya? Mereka begitu khawatir akan segala hal yang bisa merusak
kecantikkannya, tetapi tak khawatir bila iman dan hatinya yang bersih
ternoda oleh noda-noda hitam kemaksiatan – semoga Allah Memberi mereka
petunjuk -. Kecantikan fisik bukanlah segalanya. Betapa banyak kecantikan fisik
yang justru mengantarkan pemiliknya pada kemudahan dalam bermaksiat.
Maka saudariku, seperti apapun rupamu, seperti apapun fisikmu, janganlah
engkau merasa rendah diri. Syukurilah sebagai nikmat Allah yang sangat
berharga. Cantikkanlah imanmu. Cantikkanlah hati dan akhlakmu. Wahai saudariku, wanita hitam itu menderita penyakit ayan sehingga ia datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan meminta beliau agar berdoa kepada Allah untuk kesembuhannya.
Seorang muslim boleh berusaha demi kesembuhan dari penyakit yang
dideritanya. Asalkan cara yang dilakukannya tidak melanggar syariat.
Salah satunya adalah dengan doa. Baik doa yang dipanjatkan sendiri,
maupun meminta didoakan orang shalih yang masih hidup. Dan dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki keistimewaan berupa doa-doanya yang dikabulkan oleh Allah. Wanita itu berkata, “Aku menderita penyakit ayan dan auratku
tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah
Menyembuhkannya.” Saudariku, penyakit ayan bukanlah penyakit yang ringan. Terlebih
penyakit itu diderita oleh seorang wanita. Betapa besar rasa malu yang
sering ditanggung para penderita penyakit ayan karena banyak anggota
masyarakat yang masih menganggap penyakit ini sebagai penyakit yang
menjijikkan. Tapi, lihatlah perkataannya. Apakah engkau lihat satu kata saja yang
menunjukkan bahwa ia benci terhadap takdir yang menimpanya? Apakah ia
mengeluhkan betapa menderitanya ia? Betapa malunya ia karena menderita
penyakit ayan? Tidak, bukan itu yang ia keluhkan. Justru ia mengeluhkan
auratnya yang tersingkap saat penyakitnya kambuh. Subhanallah. Ia adalah seorang wanita yang sangat khawatir bila
auratnya tersingkap. Ia tahu betul akan kewajiban seorang wanita menutup
auratnya dan ia berusaha melaksanakannya meski dalam keadaan sakit.
Inilah salah satu ciri wanita shalihah, calon penghuni surga. Yaitu
mempunyai sifat malu dan senantiasa berusaha menjaga kehormatannya
dengan menutup auratnya. Bagaimana dengan wanita zaman sekarang yang di
saat sehat pun dengan rela hati membuka auratnya??? Saudariku, dalam hadits di atas terdapat pula dalil atas keutamaan
sabar. Dan kesabaran merupakan salah satu sebab seseorang masuk ke dalam
surga. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.” Wanita itu menjawab, “Aku pilih bersabar.” Wanita itu lebih memilih bersabar walaupun harus menderita penyakit
ayan agar bisa menjadi penghuni surga. Salah satu ciri wanita shalihah
yang ditunjukkan oleh wanita itu lagi, bersabar menghadapi cobaan dengan
kesabaran yang baik. Saudariku, terkadang seorang hamba tidak mampu mencapai kedudukan
kedudukan mulia di sisi Allah dengan seluruh amalan perbuatannya. Maka,
Allah akan terus memberikan cobaan kepada hamba tersebut dengan suatu
hal yang tidak disukainya. Kemudian Allah Memberi kesabaran kepadanya
untuk menghadapi cobaan tersebut. Sehingga, dengan kesabarannya dalam
menghadapi cobaan, sang hamba mencapai kedudukan mulia yang sebelumnya
ia tidak dapat mencapainya dengan amalannya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jika
datang suatu kedudukan mulia dari Allah untuk seorang hamba yang mana
ia belum mencapainya dengan amalannya, maka Allah akan memberinya
musibah pada tubuhnya atau hartanya atau anaknya, lalu Allah akan
menyabarkannya hingga mencapai kedudukan mulia yang datang kepadanya.” (HR. Imam Ahmad. Dan hadits ini terdapat dalam silsilah Al-Haadits Ash-shahihah 2599) Maka, saat cobaan menimpa, berusahalah untuk bersabar. Kita berharap,
dengan kesabaran kita dalam menghadapi cobaan Allah akan Mengampuni
dosa-dosa kita dan mengangkat kita ke kedudukan mulia di sisi-Nya. Lalu wanita itu melanjutkan perkataannya, “Tatkala penyakit ayan
menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berdoa kepada Allah agar auratnya tidak tersingkap. Wanita itu tetap menderita ayan akan tetapi auratnya tidak tersingkap. Wahai saudariku, seorang wanita yang ingatannya sedang dalam keadaan
tidak sadar, kemudian auratnya tak sengaja terbuka, maka tak ada dosa
baginya. Karena hal ini di luar kemampuannya. Akan tetapi, lihatlah
wanita tersebut. Bahkan di saat sakitnya, ia ingin auratnya tetap
tertutup. Di saat ia sedang tak sadar disebabkan penyakitnya, ia ingin
kehormatannya sebagai muslimah tetap terjaga. Bagaimana dengan wanita
zaman sekarang yang secara sadar justru membuka auratnya dan sama sekali
tak merasa malu bila ada lelaki yang melihatnya? Maka, masihkah tersisa
kehormatannya sebagai seorang muslimah? Saudariku, semoga kita bisa belajar dan mengambil manfaat dari wanita penghuni surga tersebut. Wallahu Ta’ala a’lam. Marji’:Syarah Riyadhush Shalihin (terj). Jilid 1. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin. Cetakan ke-3. Penerbit Darul Falah. 2007 M. *** Artikel muslimah.or.id Penulis: Ummu Rumman Siti Fatimah
Muraja’ah: ustadz Abu Salman
Saudariku yang dirahmati Allah, bulan-bulan terakhir ini Indonesia
cukup disibukkan dengan wabah demam berdarah (DB) yang meluas dan
menjangkiti hampir seluruh wilayah. Penyakit ini dapat menyerang anak
maupun dewasa. Tingkat keparahannya bervariasi, mulai dari yang bisa
sembuh sendiri sampai yang fatal. Pandangan masyarakat pun berbeda-beda
tentang DB. Ada yang sangat ketakutan, namun ada pula yang menanggapi
sambil lalu. Sebenarnya, apa dan bagaimana sih terjadinya DB itu ? Apakah DB itu? Demam berdarah dengue, istilah kedokterannya Dengue Hemorrhagik Fever
(DHF) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus Dengue
tipe 1-4, dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina
(dominan) dan beberapa spesies Aedes lainnya. Di Indonesia sendiri,
keempat tipe virus Dengue dapat ditemukan, dan yang dihubungkan dengan
gejala DHF yang parah adalah tipe 3. Kekebalan (imunitas) terhadap satu
jenis virus tidak berlaku untuk infeksi jenis virus lainnya, bahkan
dapat menimbulkan reaksi yang kurang menguntungkan bagi tubuh. Jumlah
kasus DHF utamanya meningkat pada musim hujan dimana sumber air bersih
bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes tersedia dimana-mana, jika tidak
dilakukan program pembersihan lingkungan yang baik. Apa Saja Tanda-Tandanya ? Saudariku yang dirahmati Allah, gejala yang tampak akibat infeksi
virus dengue biasanya muncul setelah masa inkubasi (masa dimana virus
berkembang hingga menimbulkan gejala) 3-8 hari setelah virus masuk ke
dalam tubuh. Jika sistem pertahanan tubuh dapat mengatasi virus, maka
gejala yang tampak bisa ringan atau bahkan tidak didapatkan. Namun jika
tidak, dapat timbul beberapa kondisi sebagai berikut:
Demam tinggi mendadak, >38° C, 2-7 hari
Demam tidak dapat teratasi maksimal dengan penurun panas biasa
Mual, muntah, nafsu makan minum berkurang
Nyeri sendi, nyeri otot (pegal-pegal)
Nyeri kepala, pusing
Nyeri atau rasa panas di belakang bola mata
Wajah kemerahan
Nyeri perut
Konstipasi (sulit buang air besar) atau diare
Jika seluruh atau beberapa gejala diatas ditemukan pada seseorang,
maka secara medis orang itu didiagnosis menderita Demam Dengue (Dengue Fever). Adapun tanda-tanda seseorang menderita Demam Berdarah Dengue (DHF) adalah jika didapatkan:
Demam tinggi mendadak >38°C selama 2-7 hari
Adanya manifestasi perdarahan spontan, seperti bintik-bintik merah
di kulit yang tidak hilang jika ditekan (utamanya di daerah siku,
pergelangan tangan dan kaki), mimisan, perdarahan gusi, perdarahan yang
sulit dihentikan jika disuntik atau terluka
Pembesaran organ hepar (hati) dan limpa
syok
Kriteria berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium darah:
Adanya trombositopenia, yaitu jumlah trombosit < 150.000/mm³ (normalnya 150-450 ribu/mm³)
Hemokonsentrasi, yaitu pengentalan darah akibat perembesan plasma
(komponen darah cair non seluler), ditandai dengan nilai Hematokrit
(Hct) yang meningkat 20% dari nilai normalnya.
Jika terdapat minimal 2 tanda klinis dan 2 laboratoris, maka orang
yang mengalaminya didiagnosis menderita DHF. Berdasarkan tanda-tanda
diatas pula, DHF dibagi atas beberapa derajat, yaitu:
DHF derajat I: Tanda-tanda infeksi virus, dengan menifestasi perdarahan yang tampak hanya dengan Uji Torniquet positif.
DHF derajat III: Disebut juga fase pre syok, dengan tanda DHF grade
II namun penderita mulai mengalami tanda syok; kesadaran menurun, tangan
dan kaki dingin, nadi teraba cepat dan lemah, tekanan nadi masih
terukur.
DHF derajat IV: Atau fase syok (disebut juga dengue syok
syndrome/DSS), penderita syok dalam dengan kesadaran sangat menurun
hingga koma, tangan dan kaki dingin dan pucat, nadi sangat lemah sampai
tidak teraba, tekanan nadi tidak dapat terukur.
Apakah Semua Penderita DHF Perlu Dirawat ? Jawabannya: Tidak, ya Saudariku fillah. Rata-rata penderita atau
keluarga penderita mulai menyadari sakitnya pada DHF grade I-II, dan
keduanya tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, kecuali jika
penderita sangat sulit minum dan makan, yang biasanya terjadi pada anak
kecil. Yang memerlukan perawatan dan pemantauan intensif hanya DHF grade
III-IV, karena fatalitas yang mungkin terjadi. Jadi janganlah kita
tergesa-gesa memaksakan perawatan di Rumah Sakit, apalagi jika demamnya
baru berlangsung selama 2-3 hari dan kondisi penderita masih cukup baik,
masih mau makan dan minum. Selain karena sifat penyakit ini yang
sebenarnya dapat sendiri dengan perbaikan kondisi penderita, kita juga
dapat menghindari pengeluaran biaya yang tidak perlu dan kontaminasi
kuman yang mungkin terjadi di rumah sakit. Apa yang Bisa Dilakukan di Rumah ? Pengobatan DHF sesungguhnya bersifat suportif dan simtomatik, artinya
tidak memerlukan obat untuk kausanya (seperti antivirus). Yang paling
ditekankan adalah nutrisi dan hidrasi alias makan dan minum yang cukup.
Lebih ditekankan untuk minum yang banyak, untuk mengatasi efek kebocoran
plasma darah dan meningkatkan jumlah trombosit. Setidaknya, memenuhi
kebutuhan cairan harian per harinya, yang dapat dihitung dengan rumus:
Dewasa: 50 cc/kg BB/hari
Anak: Untuk 10 kg BB pertama: 100cc/kg BB/ hari
- Untuk 10 kg BB kedua: 50 cc/kg BB/ hari
- Untuk 10 kg BB ketiga dan seterusnya: 20 cc/kg BB/hari
Contoh: Anak fulan 8 tahun dengan BB 23 kg, berarti kebutuhan cairan perharinya adalah ((100×10) + (50×10) + (20×3))= 1560 cc
Pengobatan lain yang dapat diberikan adalah kompres hangat dan
penurun panas jika demam, vitamin penambah nafsu makan, antimuntah jika
dibutuhkan. Perlu diingat juga bahwa penggunaan antibiotik tidak
diperlukan pada kasus DHF murni (tanpa adanya infeksi bakterial). Jika
ada diantara ukhti yang membawa pasien DHF berobat, dan kemudian
mendapatkan resep antibiotik, bertanyalah pada dokter atau yang
meresepkan tersebut apa kepentingannya, agar tidak terjadi pemborosan
uang dan obat, dan membebani tubuh penderita. Kapan Harus Waspada ? Beberapa kasus DHF dapat berlanjut menjadi serius yang diakibatkan
oleh beberapa faktor, antara lain seperti keganasan virus dan pertahanan
tubuh yang lemah. Tanda-tanda yang menunjukkan penderita perlu mendapat
pemeriksaan medis antara lain:
Muntah darah segar (merah) atau muntah hitam
Buang air besar berwarna hitam
Sesak nafas yang makin lama makin sesak meski demam telah teratasi
Nyeri perut yang makin nyata, diiringi dengan pembesaran lingkar perut
Kesadaran menurun tanpa syok, nyeri kepala atau pusing hingga muntah nyemprot, pandangan makin lama makin kabur
Tanda-Tanda Syok Tanda-tanda tersebut menggambarkan perembesan plasma yang tidak
teratasi dan efek perdarahan dalam rongga tubuh (misalnya saluran cerna,
otak) akibat trombosit yang terus turun. Penderita yang mengalami tanda
diatas sebaiknya segera diperiksakan ke Rumah Sakit untuk mendapat
penanganan lebih lanjut. Lalu… Kapan Sembuhnya ? DHF umumnya akan mengalami penyembuhan sendiri setelah 7-8 hari, jika
tidak ada infeksi sekunder dan dasar pertahanan tubuh penderitanya
memang baik. Tanda penyembuhan antara lain meliputi demam yang turun
perlahan, nafsu makan dan minum yang membaik, lemas yang berkurang dan
tubuh terasa segar kembali. Nah saudariku, semoga informasi singkat diatas dapat menambah
pengetahuan kita akan DB/DHF ini. Yang terpenting hendaknya kita selalu
ingat bahwa Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu pastilah ada
hikmahnya. Contoh kecil adalah penyakit ini, dimana virus yang ukurannya
dalam skala nanometer, dapat menyebabkan sakit serius pada mahluk yang
jauh lebih besar darinya, menunjukkan betapa lemahnya kita manusia di
hadapan Sang Pencipta alam semesta. Maroji’:
Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Bagian Infeksi & Penyakit Tropis , terbitan
IDAI.
Flu Singapura” adalah salah satu penyakit yang banyak melanda anak-anak saat ini. Flu singapura biasa terjadi pada anak usia 1-5 tahun. Dalam istilah medis, “flu singapura” dikenal dengan nama HFMD (hand, foot, and mouth disease) – dalam bahasa Indonesia disebut “Penyakit Kaki, Tangan, dan Mulut (KTM). Selanjutnya, dalam artikel ini kita menyebutnya dengan “flu singapura”. Apa gejala flu singapura? Gejala flu singapura seperti gejala flu pada umumnya, yaitu batuk,
pilek, dan demam. Namun ada gejala yang lebih spesifik, yaitu setelah
anak demam (sekitar 2-3 hari) akan muncul ruam merah dan lesi-lesi
(berair seperti cacar) di sekitar mulut, lidah, tenggorokan, dan pipi.
Juga di daerah bokong, selangkangan, tangan, dan kaki (pada bayi).
Akibat dari lesi di mulut, anak akan merasa sakit ketika menelan,
sehingga nafsu makannya berkurang.
Bagaimana cara penularan flu singapura? Penularan virus bisa melalui udara (percikan air liur ketika bersin
atau berbicara), sentuhan (cairan yang keluar dari bintil kecil pada
kulit), pencernaan (sisa urin atau feses/pup yang menempel pada tangan), juga melalui benda lain yang terkontaminasi oleh virus. Bagaimana penanganan flu singapura? Pertama, anak harus dibawa ke dokter untuk memastikan penyakitnya.
Kalau benar itu flu singapura, dokter biasanya hanya memberikan penurun
panas. Namun, jika ditemukan tanda-tanda infeksi bakteri yang menyertai
penyakit ini, dokter akan memberi resep antibiotik. Belum ditemukan antivirus untuk flu singapura. Dengan demikian, yang
bisa mengatasi virus ini adalah tubuh kita sendiri. Rentang waktu
penyembuhan biasanya 7-10 hari. Makanan apa yang harus diberikan saat anak terserang flu singapura? Berikan makanan yang lunak, mudah ditelan, dan – kalau bisa – tidak
perlu dikunyah. Berikan juga makanan yang sifatnya dingin, seperti
buah-buahan, pudding, dan jeli. Namun hindari makanan yang asam; jangan
beri nasi dan sup yang hangat karena akan menambah nyeri di mulut. Kapan perlu perawatan rumah sakit? Perawatan rumah sakit diperlukan bila:
Demam pada anak atau bayi tergolong tinggi, yaitu lebih dari 39 derajat celcius.
Demam yang terjadi tidak turun-turun (prolonged fever).
Denyut jantung cepat.
Sesak nafas.
Anak tidak mau makan, muntah atau diare sehingga kekurangan cairan (dehidrasi). Pada bayi, ia tidak mau menyusu ASI.
Lemah dan kesadaran menurun.
Anak mengeluh nyeri pada leher, lengan, dan kaki.
Anak atau bayi mengalami kejang.
Bagaimana cara pencegahan agar tidak tertular flu Singapura? (Bi-idznillaah tentunya)
Menjaga kebersihan perorangan,seperti rajin mencuci tangan dengan
menggunakan sabun (sebelum dan sesudah makan, sesudah buang air
kecil/besar).
Berikan asupan gizi yang cukup pada anak.
Memberikan ASI eksklusif hingga 6 bulan dan meneruskan hingga 2 tahun.
Hindari kontak erat dengan penderita.
Bagi orang tua yang anaknya menderita flu singapura, jangan bawa anak ke tempat permainan anak-anak.
Demikian secuplik informasi tentang flu singapura. Semoga jelas dan bermanfaat. Allahu a’lam. – Penulis: dr. Reni A. (Ummu Hamaam) Artikel www.muslimah.or.id
MuslimahZone.com – Pertanyaan: Sebagian wanita hamil ada
yang mengalami keguguran janin. Sebagian janinnya ada yang telah
sempurna penciptaannya, dan ada pula yang belum sempurna. Kami
mengharapkan jawaban seputar sholat wanita yang keguguran dalam dua
kondisi tersebut. Jawaban: Apabila keguguran wanita itu sudah terbentuk nyata perawakan
manusia, baik kepalanya, tangannya atau kakinya, ataupun lainnya, maka
ia dalam kondisi nifas. Berlaku hukum nifas baginya. Wanita itu tidak
sholat dan puasa dan suaminya pun tidak boleh menggaulinya sampai ia
suci atau genap empa puluh hari. Apabila wanita itu suci (darahnya berhenti) sebelum empat puluh
hari, ia wajib mandi dan sholat serta berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan
suaminya juga boleh menggaulinya. Batasan nifas yang paling sedikit tidak ada. Seandainya wanita itu
suci, dan telah berlalu sepuluh hari dari kelahiran atau kurang dari
itu, atau mungkin juga lebih, maka wanita itu wajib mandi. Dan hukumnya
sama dengan wanita suci lainnya. Adapun apabila wanita itu melihat darah
setelah empat puluh hari (dari mulai hari kelahiran -red.), maka darah
itu darah penyakit. Ia wajib berpuasa dan sholat serta boleh digauli
oleh suaminya. Ia juga wajib berwudhu setiap mau sholat seperti wanita
yang istihadhah. Sesuai dengan sabda Rasulullah SAW terhadap Fathimah binti Abi Hubays saat ia istihadhah, “Berwudhulah engkau pada waktu setiap melakukan shalat.”
Apabila darah keluar setelah empat puluh hari, pada waktu datangnya
haid, yakni jadwal bulanan, maka hukumnya hukum haid. Ia dilarang sholat
dan berpuasa serta digauli oleh suaminya sampai ia suci. Apabila janin yang keguguran dari seorang wanita itu belum berbentuk
manusia, masih segumpal daging yang tidak berbentuk atau segumpal darah,
maka hukumnya seperti wanita yang istihadhah. Bukan nifas dan bukan
pula hukum haid. Ia wajib shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan. Dan
ia juga boleh digauli suaminya. Ia juga wajib berwudhu pada waktu setiap
melakukan shalat di samping menjaga darahnya dengan kapas pembalut atau
sejenisnya seperti wanita yang istihadhah. Ia juga boleh
menggabung antara dua waktu shalat, shalat Zhuhur dengan shalat Ashar,
dan shalat Maghrib dengan shalat Isya. Disyariatkan untuknya agar mandi
saat hendak melakukan shalat yang digabungnya tersebut dan untuk shalat
Shubuh. Berdasarkan sebuah hadits shahih dari Fatimah binti Hubaiys
dalam masalah tersebut. Karena menurut para ulama status hukumnya sama
dengan istihadhah. Allahlah yang selalu Memberikan Taufik. Diambil dari Fiqih Pengobatan Islami, Dr. ‘Ali bin Sulaiman Ar-Rumaikhan (esqiel/muslimahzone.com)
MuslimahZone.com – Mengajarkan balita kita shalat
ternyata gampang-gampang susah. Ketika kita shalat bersama mereka,
mereka cenderung hanya mengikuti gerakan-gerakan kita saja bahkan saat
mereka ikut ayah ke masjid pun demikian. Mereka agak kesulitan mengikuti
bacaan-bacaan shalat yang memang harus kita baca pelan (sirr). Ketika
kita shalat bersama mereka kita juga tidak dapat mengoreksi gerakan
shalat mereka jika ada yang kurang tepat. Lain hal ketika kita memang
menyengaja latihan shalat diluar pelaksanaan shalat sesungguhnya. Namun
kadang dengan aktivitas rumah tangga dan urusan anak yang tak
habis-habis, latih-melatih shalat dengan bacaan yang sempurna serta
pengoreksian gerakan ini biasanya hanya anak-anak dapati di sekolah atau
TPA (Taman Pendidikan Al Quran). Itupun biasanya latihan shalat hanya
dilakukan satu kali dalam sepekan. Maha Suci Allah dari kesia-siaan atas ciptaanNya.Ternyata hal ini
dapat tersolusikan. Para ibu memiliki waktu spesial pada setiap bulannya
untuk dapat mentraining balita-balitanya shalat lengkap dengan seluruh
bacaannya dan pengoreksian gerakannya. Kapankah? Yaitu ketika datang
masa haid. Masa haid yang biasanya datang 4 hari atau lebih ini cukup
untuk membuat balita kita hafal bacaan shalat dan tertib akan
gerakan-gerakan shalatnya. Syaratnya, kita pun harus tertib mengajak dan
mempersiapkan perlengkapan shalat mereka pada tiap-tiap waktu shalat. Kita persiapkan mental mereka ketika menjelang adzan. Kita ajak
mereka berwudhu. Kalau belum terampil berwudhu, temani mereka wudhu ,
ajarkan tertib berwudhu dengan sempurna. Jika mereka belum bisa wuduh
dengan sempurna, dimaafkan saja dan pada waktu shalat berikutnya dapat
Ibu perbaiki. Kemudian persiapkan perlengkapan shalat bagi mereka; peci,
sarung, sajadah, kerudung atau mukena kecil. Dalam training ini kita juga dapa melekatkan semua sarat sah dan
rukun shalat pada balita langsung dalam praktinya. Misalkan tentang
aurat, kesucian diri, pakaian dan tempat shalat dari najis dan lainnya. Momen training wudhu dan shalat ini pula bermanfaat banyak bagi ibu.
Ibu jadi terjaga dari lalai terhadap waktu dan dari lalai dzikir kepada
Allah. Karena tidak jarang ketika masa haid banyak ibu yang mendadak
‘nyantai’ dan lalai dari berdzikir. Akibatnya, sang ibu melemah
keimanannya. Padahal saat haid, kondisi emosional ibu cenderung tidak
stabil akibat aktivitas-aktivitas hormonal dalam tubuhnya. Demikianlah para Ibu di rumah, semoga bermanfaat. Rabbij ‘alni muqimmashshalati wa min dzurriyati. Rabbana taqabbal du’a. Aamiin. (esqiel/muslimahzone.com)